PEMETAAN PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN TERKAIT FREKUENSI KEHADIRAN APOTEKER DI APOTEK DI SURABAYA TIMUR

  • Rendy Ricky Kwando Fakultas Farmasi Universitas Surabaya

Abstract

Adanya standar-standar yang telah ditentukan tentunya diharapkan masyarakat dapat menerima kualitas pelayanan kesehatan yang baik. Seperti yang kita ketahui bahwa Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien, namun faktanya sering dijumpai bahwa Apoteker tidak berada pada tempat prakteknya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa begitu penting dalam melakukan upaya peningkatan pelayanan kefarmasian. Telah dilakukan penelitian tentang pemetaan peran apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian terkait frekuensi kehadiran apoteker di apotek di Surabaya Timur. Penelitian ini dilakukan pada 30 responden yaitu apoteker di Kota Surabaya Timur dengan metode noneksperimental. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dilakukan di apotek di Surabaya Timur, bagaimana pengaruh frekuensi kehadiran apoteker terhadap pelayanan kefarmasian di apotek dan kendala-kendala apa yang dihadapi oleh apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian di apotek. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar monitoring dari Petunjuk Teknis Kepmenkes RI No 1027/MENKES/SK/IX/2004 dan kuesioner menurut survey yang dilakukan di Eropa. (FIP, 2008). Dari penelitian ini diperoleh pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek-apotek di Surabaya Timur dikategorikan kurang dengan hasil persentase kurang dari 60%, adanya korelasi signifikan positif antara frekuensi kehadiran apoteker dan pelayanan kefarmasian dan rendahnya upah / gaji apoteker merupakan kendala utama terkait kehadiran apoteker di apotek.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Besancon, 2009, Pharmaceutical care: Where do we stand, Where should we go? Survey Report 2009, (online), (http://FIP.eu.gov. diakses 16/10/2013)

Deasy, 2013, Profil Kepuasan Konsumen Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Kota Surabaya, Surabaya.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Departemen Kesehatan RI, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/Sk/Ix/2004

Departemen Kesehatan RI, 2008, Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004

Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, 2010, Pedoman Pelaksanaan Skripsi, Surabaya, Fakultas Farmasi Universitas Surabaya

Kountur, 2004, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, PPM, Jakarta.

Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB), 2011

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1332/Menkes/Sk/X/2002

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 992 Tahun 1993 Tentang Ketentuan dan Cara Pemberian Izin Apotek, 1993, Jakarta

Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, 2009, Jakarta.

Saryono, 2011, Metodologi Penelitian : Penuntun Praktis Bagi Pemula, Mitra Cendikia Press, Jogja.

Sugiyono, 2006, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, ALFABETA, Bandung.

Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, ALFABETA, Bandung.

Suharsimi, Arikunto, 2005, Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, 2009, Jakarta.

WHO, 2006, Developing pharmacy practice : A Focus On Patient Care Handbook-2006 edittion, Netherlands.

Zainuddin, M, 2000, Metodologi Penelitian, Surabaya, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
Published
2014-03-01
How to Cite
KWANDO, Rendy Ricky. PEMETAAN PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN TERKAIT FREKUENSI KEHADIRAN APOTEKER DI APOTEK DI SURABAYA TIMUR. CALYPTRA, [S.l.], v. 3, n. 1, p. Hal. 1 - 12, mar. 2014. ISSN 2302-8203. Available at: <http://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/view/1506>. Date accessed: 22 july 2019.