https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/issue/feed MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) 2021-07-01T11:48:35+00:00 Kartini mpi@unit.ubaya.ac.id Open Journal Systems <p style="text-align: justify;"><span style="font-family: helvetica; font-size: small;"><span style="font-family: helvetica; font-size: medium;">Media Pharmaceutica Indonesiana (MPI) is a journal focusing on pharmaceutical aspects. MPI is dedicated to update and support the development of information and knowledge on pharmaceutical fields. This journal is published twice a year (June and December). MPI has been accredited by Kemenristekdikti since July 9<sup>th</sup>, 2018 with an accreditation rank of 4.</span></span></p> https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/4447 Characterization of Green Pigment from Sauropus androgynus Shoot Cultures 2021-07-01T11:46:54+00:00 Oeke Yunita oeke@staff.ubaya.ac.id Devi Veronica Wijayanto oeke@staff.ubaya.ac.id Aulia Dwi Hapsari oeke@staff.ubaya.ac.id Muji Lestari Wahyu Wilang Sari oeke@staff.ubaya.ac.id Alfian Hendra Krisnawan alfian_hendra_k@staff.ubaya.ac.id <p>The dark green leaves of <em>Sauropus androgynus</em> (Euphorbiaceae) have various nutritive values and are commonly used for human consumption as food, medicine, and natural dye substance in South-east Asia. Shoot cultures of this plant were established by adding various concentrations of kinetin (Kn) and benzyl adenine (BA) using nodal explants. The best results were recorded when Kn 0.1 mg/L was used with BA 1 mg/L (BA<sub>1</sub>Kn<sub>0.1</sub>). Spectrophotometric analysis showed two peaks of green pigment in shoot cultures, A pigment (λ<sub>max</sub> = 663.6 - 663.8 nm, absorbance 0.1111) and B pigment (λ<sub>max</sub>= 611.3 - 613.9 nm, absorbance 0.0390). Thin Layer Chromatography (TLC) analysis showed two green spots (Rf Y = 0.31 and Rf Z = 0.25) of shoot cultures on medium supplemented with BA<sub>1</sub>Kn<sub>0.1</sub> for 10 days. Pigment profiles of shoot culltures were similar to their corresponding mother plants. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) was used as a preliminary technique to evaluate the genetic similarity of the shoot cultures and their corresponding mother plants. It showed four similar DNA banding patterns to their leaves, ranging from 271-765 bp.</p> 2021-06-30T08:39:50+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/3629 Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Upo-upo (Phyllodium pulchellum (L.) Desv.) sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes 2021-07-01T11:47:27+00:00 Dewi Isnaeni dewiisnaeni73@gmail.com Andi Ulfa Magefirah Rasyid dewiisnaeni73@gmail.com Rahmawati dewiisnaeni73@gmail.com <p>Telah dilakukan penelitian untuk menguji efektivitas ekstrak etanol daun Upo-upo (<em>Phyllodium pulchellum</em> (L.) Desv.) terhadap pertumbuhan <em>Streptococcus viridans</em> dan <em>Streptococcus pyogenes</em>. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi terhadap bahan uji dan uji mikrobiologis menggunakan metode <em>Disc diffusion</em> menurut Kirby &amp; Bauer dengan konsentrasi ekstrak 1; 1,5; 2; dan 2,5%, dengan kontrol positif cefixime dan kontrol negatif CMC Na 1%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Upo-upo dapat menghambat pertumbuhan <em>S. viridans</em> pada konsentrasi ekstrak 1; 1,5; 2; dan 2,5%, masing-masing dengan diameter hambatan 9,01; 9,58; 10,24; dan 12,27 mm, sedangkan zona hambatan untuk kontrol positif 22,07 mm dan kontrol negatif tanpa zona hambatan. Zona hambatan terhadap S. pyogenes pada konsentrasi ekstrak 1; 1,5; 2; dan 2,5% masing-masing adalah 9,51; 9,91; 10,93; dan 13,59 mm, dimana zona hambatan kontrol positif 25,77 mm dan kontrol negatif tanpa zona hambatan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Upo-upo pada semua tingkat konsentrasi mempunyai efektivitas antibakteri terhadap <em>S. viridans</em> dan <em>S. pyogenes</em>. Efektivitas antibakteri ekstrak etanol daun Upo-upo terhadap pertumbuhan <em>S. viridans</em> dan <em>S. pyogenes</em> menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka semakin besar pula zona hambat yang dihasilkan. Konsentrasi yang paling efektif adalah 2,5%.</p> 2021-06-30T08:39:12+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/4396 Pengaruh Konsentrasi Xanthan Gum (1,5% dan 2%) terhadap Karakteristik Fisika dan Kimia Sereal Daun Kelor dengan Pengisi Susu Soya dan Susu Skim 2021-07-01T11:45:14+00:00 Karina Citra Rani karinacitrarani@staff.ubaya.ac.id Nikmatul Ikhrom Eka Jayani nikmatul.ikhrom@staff.ubaya.ac.id Marvela Christabel Renata karinacitrarani@staff.ubaya.ac.id Elisabeth Regina Oetama karinacitrarani@staff.ubaya.ac.id Nani Parfati nani_parfati@staff.ubaya.ac.id <p>Daun kelor potensial dikembangkan menjadi produk nutraseutikal dalam bentuk sereal. Granul sereal daun kelor diformulasikan menggunakan suspending agent xanthan gum dan kombinasi pengisi susu soya-susu skim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan konsentrasi xanthan gum 1,5% (F1) dan 2% (F2) terhadap karakteristik fisika dan kimia sereal daun kelor. Metode yang digunakan dalam pembuatan granul sereal daun kelor adalah granulasi basah. Hasil evaluasi karakteristik granul menunjukkan kedua formula granul berwarna hijau tua, rasa manis, dan aroma melon. Granul dapat mengalir dengan baik ditinjau dari nilai Rasio Hausner dan indeks kompresibilitas formula 1 dan 2 yaitu 1,09 ± 0,10 dan 11,52 ± 3,81% serta 1,13 ± 0,07 dan 11,19 ± 5,64%. Kandungan lembab granul juga memenuhi persyaratan yaitu 2,64 ± 0,43% pada formula 1 dan 2,84 ± 0,28% pada formula 2. Setelah rekonstitusi, granul sereal terdispersi dalam bentuk suspensi halus berwarna hijau kecoklatan, rasa manis, dan aroma melon. Peningkatan konsentrasi xanthan gum pada formula 2 berpengaruh signifikan terhadap peningkatan waktu dispersi dan viskositas dibandingkan formula 1. Waktu dispersi formula 1 dan 2 masing-masing adalah 8,44 dan 9,17 detik, sedangkan viskositas formula 1 dan 2 adalah 136,93 dan 275,58 cps. Konsentrasi xanthan gum yang lebih tinggi pada formula 2 menghasilkan volume sedimentasi yang lebih tinggi (F=1) dan stabilitas dispersi yang lebih baik dibandingkan formula 1 (F&lt;1).</p> 2021-06-30T08:42:46+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/4461 Pengembangan Sari Nanas Tinggi Aktivitas Antioksidan Menggunakan Pendekatan Half Factorial Design 2021-07-01T11:48:35+00:00 Indra Topik Maulana indra.topik@gmail.com Budi Prabowo Soewondo b.soewondo@gmail.com Abdul Kudus akudusmilis@gmail.com <p>Nanas (<em>Ananas comosus</em> L.) subang memiliki potensi untuk dibuat menjadi pangan fungsional sari nanas yang memiliki aktivitas antioksidan. Untuk menghasilkan produk yang tahan lama dan memiliki aktivitas antioksidan, maka sari nanas dibuat dengan melewati empat faktor perlakuan yaitu pemilihan bahan, penambahan gula, blansing, dan pemasakan dengan masing–masing terdiri dari dua variabel yaitu positif dan negatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh empat faktor perlakuan tersebut terhadap aktivitas antioksidan dari sari nanas. Pembuatan sari nanas didesain melalui pendekatan half design experiment. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel yang disimpan pada suhu kamar mengalami fermentasi kurang dari 7 hari pengujian, sedangkan seluruh sampel yang disimpan pada suhu dingin lebih tahan lama sehingga dilanjutkan pada pengujian selanjutnya. Diagram pareto menunjukkan pemilihan bahan, konsentrasi gula, dan durasi waktu blansing secara nyata memberikan pengaruh terhadap peningkatan aktivitas antioksidan dari sari nanas. Namun demikian, durasi waktu pemasakan masih perlu dianalisis lebih lanjut.</p> 2021-06-30T08:37:42+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/4456 Analisis Fisiko-Kimia Pati Buah Sukun (Artocarpus altilis) Muda dan Mengkal Asal Kabupaten Bone Sulawesi Selatan sebagai Kandidat Bahan Tambahan Sediaan Tablet 2021-07-01T11:48:01+00:00 Aliyah Aliyah aliyahputranto@yahoo.co.id Latifah Rahman aliyahputranto@yahoo.co.id <p>Buah sukun (<em>Artocarpus altilis</em>) merupakan salah satu sumber karbohidrat tinggi yang dapat diolah menjadi pati dan memiliki multifungsi sebagai bahan tambahan dalam industri farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisiko-kimia pati buah sukun dan untuk mengetahui fungsinya sebagai bahan tambahan dalam sediaan tablet konvensional. Pati diperoleh dari buah sukun muda dan mengkal menggunakan metode dekantasi. Pati yang diperoleh dikeringkan dan dilakukan analisis fisika meliputi pH, kadar air, kerapatan sejati, kerapatan nyata, kerapatan mampat, kecepatan alir, dan viskositas, serta analisis kimia meliputi kadar amilosa dan amilopektin. Hasil penelitian menunjukkan rendemen pati buah sukun muda dan mengkal masing-masing 4,3% dan 8,93%, berupa serbuk halus berwarna putih, tidak berasa, dan berbau khas sukun, bentuk speris tidak beraturan, dengan ukuran partikel rata-rata 26,06 µm dan 5,69 µm. Analisis sifat fisika memperlihatkan bahwa kedua pati memiliki pH, kadar air, dan kerapatan yang sesuai pustaka, sifat alir yang buruk, dengan viskositas yang memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi pati semakin meningkat viskositasnya; sedangkan hasil analisis kimia menunjukkan bahwa kedua pati memiliki kadar amilosa yang lebih tinggi dibandingkan kadar amilopektinnya, sehingga direkomendasikan untuk digunakan sebagai bahan penghancur sediaan tablet konvensional.</p> 2021-06-30T08:38:20+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/3937 Analisis Interaksi Obat Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang 2021-07-01T11:46:20+00:00 Maria Philomena Erika Rengga rilkerengga@ucb.ac.id Ridwan Brampi Kono rilkerengga@ucb.ac.id Christin Aprilian Beama rilkerengga@ucb.ac.id <p>Interaksi obat penting untuk diperhatikan, dicegah, dan ditangani karena dapat mempengaruhi kerja dari obat dengan mengubah kadar obat dalam darah, meningkatkan risiko efek samping atau toksisitas obat, dan dapat memperparah kondisi medis tertentu yang dimiliki pasien, termasuk Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Masalah interaksi obat akibat polifarmasi pada pasien dengan PGK menjadi penting karena efek dari interaksi obat dapat mempengaruhi keberhasilan terapi, padahal PGK sendiri merupakan kondisi dengan berbagai komorbid yang harus dikontrol. RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes sebagai satu-satunya RS rujukan pemerintah tingkat provinsi di Nusa Tenggara Timur membutuhkan data deskriptif interaksi obat PGK agar dapat dilakukan langkah perbaikan ke depannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan interaksi obat PGK di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif. Teknik <em>systematic sampling</em> digunakan untuk memilih 100 sampel dari 400 populasi PGK. Selanjutnya 16 sampel dieksklusi sehingga hanya 84 sampel yang dianalisis. Interaksi obat secara potensial ditemukan pada 72 pasien (85,7%) dan tertinggi pada tingkat keparahan sedang (68,0%). Interaksi obat paling banyak berpotensi terjadi antara furosemid dan golongan <em>Angiotensin Converting Enzyme-inhibitor</em>.</p> 2021-06-30T08:40:37+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s) https://journal.ubaya.ac.id/index.php/MPI/article/view/3918 Studi Eksperimental Efektivitas Pijat dengan Minyak Esensial Cengkeh terhadap Status Fungsional Pasien Osteoartritis 2021-07-01T11:45:47+00:00 Dewi Puspita Apsari dewipuspitaapsari@gmail.com Ni Luh Setiawati dewipuspitaapsari@gmail.com <p>Pengobatan konvensional seperti NSAID sering digunakan untuk mengontrol nyeri dan inflamasi pasien osteoartritis (OA). Namun terkadang obat tersebut tidak efektif. Kombinasi pengobatan konvensional dan pelayanan kesehatan tradisional dirasa mampu mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pijat dengan minyak esensial cengkeh terhadap status fungsional pasien OA. Metode yang digunakan adalah <em>quasi experimental-nonequivalent control group design</em> pada 40 pasien OA yang berusia 46-84 tahun dengan skor VAS&gt;4. Pada kelompok intervensi, pasien OA diberikan kombinasi terapi konvensional dan pijat dengan minyak esensial cengkeh. Sebaliknya pada kelompok kontrol pasien OA diberikan kombinasi terapi konvensional dan pijat dengan minyak kelapa. Penilaian efektivitas dilakukan pada hari ke-0, 1, 2 dan 3 pengobatan dengan kuisoner WOMAC (<em>Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis index</em>). Status fungsional pasien digambarkan dalam empat skor <em>outcome</em> yakni skor total WOMAC, intensitas nyeri, kekakuan, dan fungsi fisik pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pijat dengan minyak esensial cengkeh signifikan meningkatkan status fungsional pasien dengan nilai rata-rata skor total WOMAC (21,30 ± 3,36; p=0,02), nyeri (3,80 ± 1,01; p=0,00), kekakuan (1,85 ± 0,75; p=0,00) dan domain fungsi fisik (15,65 ± 2,54; p=0,00) di hari ketiga pengobatan. Sebaliknya kelompok kontrol hanya signifikan menurunkan intensitas nyeri (7,60 ± 1,73; p=0,00) yang dialami pasien. Jadi kombinasi pengobatan konvensional dan pijat dengan minyak esensial cengkeh meningkatkan status fungsional pasien OA.</p> 2021-06-30T08:41:31+00:00 Copyright (c) 2021 The Author(s)