Keluwih: Jurnal Sains dan Teknologi <p align="justify"><strong>Keluwih: Jurnal Sain</strong><strong>s</strong><strong> dan Teknologi </strong>is an online, open access, and peer-reviewed journal. JST publishes its issues twice in a year (February and August). This journal is to provide a forum for the sharing, dissemination, and discussion of original research, case studies, and critical reviews in the fields of science and technology including biotechnology. This focus and scopes include, but are not limited to subjects in industrial engineering, informatics, electrical engineering, manufacture, environmental issues, renewable energi, chemistry and chemical engineering, product design &amp; management, and fashion design &amp; lifestyle products.</p> <p align="justify"><strong>eISSN:&nbsp;</strong>2721-2432</p> en-US <ul> <li class="show" style="text-align: justify;">Articles published in Keluwih: Jurnal Sains dan Teknologi are licensed under a <a title="CC BY SA" href="">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International</a> license. You are free to copy, transform, or redistribute articles for any lawful purpose in any medium, provided you give appropriate credit to the original author(s) and the journal, link to the license, indicate if changes were made, and redistribute any derivative work under the same license.</li> <li class="show" style="text-align: justify;">Copyright on articles is retained by the respective author(s), without restrictions. A non-exclusive license is granted to&nbsp;Keluwih: Jurnal Sains dan Teknologi to publish the article and identify itself as its original publisher, along with the commercial right to include the article in a hardcopy issue for sale to libraries and individuals.</li> <li class="show" style="text-align: justify;">By publishing in Keluwih: Jurnal Sains dan Teknologi, authors grant any third party the right to use their article to the extent provided by the <a title="CC BY SA" href="">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International</a> license.</li> </ul> (Singgih Sugiarto) (Miftahur Rahman Fibri) Tue, 28 Feb 2023 00:00:00 +0000 OJS 60 Implementasi Multimedia Software Engineering Methodology Pada Pembuatan Perangkat Promosi Wisata <p style="text-align: justify;"><em><strong>Abstract</strong>—Artikel ini membahas tentang perbedaan antara multimedia interaktif dan non-interaktif. Multimedia non-interaktif ditampilkan dalam format linier dan pengguna tidak dapat berinteraksi dengan kontennya, sedangkan multimedia interaktif memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dan mengontrol cara konten ditampilkan. Dalam pembuatan produk multimedia, developer biasanya mengacu pada dua metode, yaitu Software Development Lifecycle (SDLC) dan Multimedia Production Stage (MPS). MSEM (Multimedia Software Engineering Methodology) adalah metode pengembangan perangkat lunak yang didesain untuk membantu dalam pembuatan aplikasi multimedia interaktif atau non-interaktif. Studi ini mengkaji manfaat MSEM pada implementasi produk multimedia dengan mempelajari dampak dan manfaat penggunaan MSEM pada perangkat promosi wisata lokal yang memuat multimedia interaktif dan non-interaktif. Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan masukan pihak developer multimedia untuk menggunakan MSEM dalam merencanakan dan mengembangkan produk multimedia.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Abstrak</strong>—This article discusses the difference between interactive and non-interactive multimedia. Non-interactive multimedia is displayed in a linear format and users cannot interact with its content, while interactive multimedia allows users to interact and control the way content is displayed. In the creation of multimedia products, developers usually refer to two methods, the Software Development Lifecycle (SDLC) and the Multimedia Production Stage (MPS). MSEM (Multimedia Software Engineering Methodology) is a software development method designed to assist in the creation of interactive or non-interactive multimedia applications. This study examines the benefits of MSEM in multimedia product implementation by studying the impact and benefits of using MSEM in promoting local tourism products containing interactive and non-interactive multimedia. The purpose of this research is to provide input for multimedia developers to use MSEM in planning and developing multimedia products.</p> <p style="text-align: justify;"><em>&nbsp;</em></p> Tyrza Adelia, Andre Andre, Joshia Eki Manuel Copyright (c) 2023 Tyrza Adelia, Andre Andre, Joshia Eki Manuel Mon, 06 Mar 2023 00:00:00 +0000 Process Design of Benzene Nitrification <p style="text-align: justify;"><strong><em>Abstract</em></strong>—<em>Aspen HYSYS was used to investigate several aspects of process design for benzene nitration. </em><em>In this study, the</em><em> frequency factor (k<sub>o</sub>) </em><em>and t</em><em>he activation energy (E<sub>a</sub>) for </em><em>benzene nitration</em> <em>w</em><em>e</em><em>re</em> <em>given</em><em> from the literature. Calculations of </em><em>chemical and </em><em>physical&nbsp; properties </em><em>we</em><em>re performed automatically on Hysys using the NRTL and UNIQUAC Thermodynamic models. S</em><em>ome</em><em> aspects of process design were studied, namely: </em><em>(1) </em><em>the effect of temperature on the conversion of reactions, </em><em>(2) </em><em>the effect of the ratio of sul</em><em>ph</em><em>uric acid to nitric acid on the synthesis of nitrobenzen in </em><em>the reactor</em><em>, and </em><em>(3) </em><em>the effect of reactor arrangements</em><em> ( parallel and series)</em><em> on reaction conversion. The results showed that the </em><em>peak of</em><em> conversion that could be achieved on a single </em><em>reactor</em><em> was 96.9% at a ratio of sulfuric acid: nitric acid = 3.5 and a temperature of 50ºC. However, based on this study, it is suggested that the most favorable conditions for nitation of benzene in an isothermal </em><em>reactor</em><em> are 50°C and a sulfuric acid:nitric acid ratio of about 2.5 to 3.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Abstrak</strong>—Aspen HYSYS digunakan untuk menginvestigasi beberapa aspek&nbsp; perancangan proses pada nitrasi benzen. Energi aktivasi (Ea) dan faktor frekwensi (ko) untuk reaksi ini diperoleh dari literature. Perhitungan sifat-sifat fisis dan kimia dilakukan secara otomatis pada Hysys dengan menggunakan model Termodinamik NRTL dan UNIQUAC. Beberapa aspek perancangan proses dipelajari dengan simulasi, yaitu: pengaruh suhu pada konversi reaksi, pengaruh rasio asam sulfat terhadap asam nitrat pada sintesa nitrobenzen dalam CSTR (reaktor berpengaduk kontinyu), dan pengaruh susunan reaktor baik seri maupun parallel terhadap konversi reaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi tertinggi yang dapat dicapai pada CSTR tunggal adalah 96,9 % pada rasio asam sulfat: asam nitrat = 3,5 dan suhu 50ºC. Namun demikian, berdasarkan penelitian ini, disarankan bahwa kondisi yang paling disukai untuk nitasi benzen dalam CSTR isotermal adalah 50ºC dan rasio asam sulfat:asam nitrat sekitar 2,5 sampai 3.</p> Rudy Agustriyanto, Lanny Sapei, Endang Srihari Mochni, Puguh Setyopratomo Copyright (c) 2023 Rudy Agustriyanto, Lanny Sapei, Endang Srihari Mochni, Puguh Setyopratomo Thu, 23 Mar 2023 02:32:25 +0000 Perancangan Perangkat Makan Bersama Bertolak dari Tradisi Bajamba Minangkabau Menggunakan Metode Ekstraksi Unsur Visual <p style="text-align: justify;"><strong><em>Abstract</em></strong>—<em>Bajamba</em><em> is one of the communal dining activities in Indonesia from the Minangkabau tradition. The article views that the uniqueness of the Minangkabau Bajamba tradition can be applied to more contemporary tableware sets. Th</em><em>is</em> <em>study aims to </em><em>design a contemporary tableware set using ceramic materials </em><em>by </em><em>emphasiz</em><em>ing</em><em> the application of the visual elements of traditional </em><em>trays</em><em> and </em><em>cloth covers of Minangkabau</em><em>. The number of people, as well as the types and the number of menus in the Bajamba meal, are the main references for the tableware set design. </em><em>The decision on the dimensions, shape, and concept of the tableware set refers to the Bajamba tradition of dining. This study offers a tableware set design consisting of a tray with a diameter of 50 cm, four small plates, and four plates of curry sauce. The comprehensive prototyping test results show that the process of making a tray requires a plate with a diameter of approximately 55 cm, so it requires a large drying furnace. This design offers its uniqueness inspired by the Bajamba tradition which can provide a different and enjoyable dining experience. In addition, its use can help preserve the Bajamba Minangkabau tradition through the use of tableware sets inspired by this tradition.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Keyword</em><em>s:</em></strong> b<em>ajamba</em><em>, </em><em>tableware set</em><em>, communal dining</em><em>, tradition, minangkabau</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Abstrak</strong>—<em>Bajamba</em> merupakan salah satu tradisi makan bersama di Indonesia yang berasal dari Minangkabau. Artikel ini memandang bahwa keunikan tradisi <em>bajamba</em> Minangkabau dapat diterapkan kepada perancangan perangkat makan bersama yang lebih masa kini. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain set perangkat makan bersama dari bahan keramik dengan menekankan pada terapan unsur visual <em>dulang</em> dan <em>dalamak</em> tradisional Minangkabau. Jumlah kumpul orang, serta jenis dan jumlah menu dalam sajian <em>Bajamba</em> menjadi referensi utama dalam memutuskan desain. Keputusan dimensi, bentuk dan konsep perangkat makan mengacu pada aktivitas makan tradisi <em>bajamba</em>. Perancangan ini menghasilkan satu set perangkat makan bersama yang terdiri dari satu <em>dulang</em> berdiameter 50 cm, empat piring kecil, dan empat piring kuah gulai. Hasil uji coba purwarupa menunjukkan bahwa proses membuat <em>dulang</em> memerlukan plat berdiameter kurang lebih 55 cm sehingga memerlukan tungku pengering yang besar. Desain ini menawarkan keunggulan berupa keunikan tersendiri yang terinspirasi dari tradisi Bajamba yang dapat memberikan pengalaman makan yang berbeda dan menyenangkan. Selain itu, penggunaannya dapat membantu melestarikan tradisi Bajamba Minangkabau melalui penggunaan perangkat makan yang terinspirasi dari tradisi tersebut.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kata kunci:</strong><em> bajamba, perangkat makan, makan bersama</em><em>, tradisi, minangkabau</em></p> Raisa Shofia, Wildan Aulia Copyright (c) 2023 Raisa Shofia, Wildan Aulia Thu, 25 May 2023 03:47:31 +0000 Inisiasi Bibit Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) melalui Teknik Kultur In vitro <p style="text-align: justify;"><span lang="IN"><strong><em>Abstract</em></strong>— <em>Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) is one of the Indonesian spices that is not easy to be cultivated outside its natural habitat because it requires lower temperatures for its growth. This research aimed to determine the culture technique of andaliman plants using in vitro tissue culture techniques to solve the difficulties of plant cultivation outside its natural habitat. The explants used are seeds and nodal segments. Using seeds, methods were divided into seeds collection and sterilization and initiation. Methods using nodal segments explants were divided into sample collection, nodal sterilization, initiation, and shoot multiplication. Seed sterilization using 60 °C water which was replaced every six hours had lower contamination rate compared to other methods. Unfortunately, seeds germination and dormancy breaking were not exhibited in this research. Nodal segment sterilization using 0,1% (b/v)</em> <em>mercury chloride (HgCl<sub>2</sub>)</em><em> exposed for seven minutes </em><em>and addition of 100 IU mL<sup>-</sup></em><em><sup>1</sup></em> <em>nystatin showed fewer contaminations. Multiplication using </em><em>Murashige-Skoog (MS) media with addition of 1 ppm NAA and 5 ppm BAP (</em><em>MSN<sub>1</sub>B<sub>5</sub></em><em>) </em><em>produced </em><em>nine s</em><em>hoots and produced callus. Overall, both explant sterilizations were successful, but it was recommended to use nodal segments as the explant due to success in producing andaliman plantlet in vitro.</em><em>&nbsp;</em></span></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Keyword</em><em>s:</em></strong> a<em>ndaliman, </em><em>HgCl<sub>2</sub>, nystatin, plant tissue culture, woody plant medium</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Abstrak</strong>— Andaliman (<em>Zanthoxylum acanthopodium</em> DC.) adalah salah satu rempah Indonesia yang sulit untuk dibudidayakan di luar habitat aslinya karena membutuhkan suhu rendah untuk pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan teknik perbanyakan tanaman andaliman menggunakan teknik kultur jaringan secara <em>in vitro</em> dengan memperhatikan beberapa faktor seperti larutan sterilisasi yang digunakan dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan. Eksplan yang digunakan adalah biji dan nodus. Metode penelitian dengan eksplan biji meliputi koleksi buah, germinasi, dan inisiasi eksplan. Metode penelitian dengan eksplan nodus dibagi menjadi koleksi bibit, inisiasi nodus, dan multiplikasi nodus. Sterilisasi permukaan biji menggunakan air hangat bersuhu 60 °C yang diganti setiap enam jam memiliki tingkat kontaminasi yang paling rendah dibandingkan dengan metode lainnya, tetapi germinasi dan pemecahan dormansi tidak terjadi pada penelitian ini. Sterilisasi permukaan nodus menggunakan larutan merkuri klorida (HgCl<sub>2</sub>) 0,1% (b/v) dengan durasi perendaman selama tujuh menit dan 100 IU mL<sup>-</sup><sup>1</sup> nistatin pada media menunjukkan tingkat kontaminasi yang lebih rendah. Multiplikasi menggunakan media Murashige-Skoog dengan penambahan 1 ppm NAA dan 5 ppm BAP (MSN<sub>1</sub>B<sub>5</sub>) menghasilkan organ tunas dalam jumlah yang paling banyak yaitu sebanyak sembilan tunas dan terbentuk kalus. Secara keseluruhan, sterilisasi kedua eksplan berhasil dilakukan, tetapi lebih disarankan menggunakan eksplan nodus karena dapat menghasilkan tunas andaliman secara <em>in vitro</em>.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kata kunci:</strong> <em>andaliman, </em><em>HgCl<sub>2</sub></em><em>, k</em><em>ultur Jaringan tanaman, n</em><em>istatin</em><em>, woody plant medium</em></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN">&nbsp;</span></p> Maria Madelaine Nicole, Yanti, Listya Utami Karmawan Copyright (c) 2023 Maria Madelaine Nicole, Yanti, Listya Utami Karmawan Sun, 11 Jun 2023 00:00:00 +0000